Feed on
Posts
comments

Saya heran, kenapa sampai sekarang dia masih terus berharap pada perempuan itu. Harapan yang tidak pasti antara apa dan tiada. Dia berkata bahwa memang perempuan itu memiliki segala yang dibutuhkannya. Kematangan dan kemandirian itu yang selama ini dikaguminya. Tapi, perempuan itu punya sesuatu yang tak mungkin ditinggalkannya. Seharusnya dia juga tahu bahwa karena sesuatu itu terus mengikuti perempuan itu, tak mungkin dia bisa bersamanya. Itu sebabnya kemudian dia berpaling padaku. Hampir setiap malam dia bersamaku, membisikkan kata-kata manis yang membuatku melayang. Biarlah waktu yang menjawab.

Saya heran, kenapa kamu sampai sekarang masih terus berharap pada saya. Harapan yang tidak pasti antara apa dan tiada. Kamu berkata bahwa saya memiliki segala yang kau butuhkan. Kematangan dan kemandirianku itu yang selama ini kau kagumi. Tapi kamu juga tahu bahwa aku punya sesuatu yang tak mungkin kutinggalkan. Seharusnya kamu juga tahu bahwa ada sesuatu yang terus mengikutiku. Tak mungkin kamu bisa bersamaku. Aku juga tahu kamu berpaling pada perempuan lain itu. Aku tahu hampir setiap malam kamu bersamanya, membisikkan kata-kata manis yang membuatnya melayang. Biarlah waktu yang menjawab.

Saya heran, kenapa sampai sekarang saya masih berharap padanya. Harapan yang tidak pasti antara apa dan tiada. Tapi dia memang memiliki segala yang saya butuhkan, terutama kematangan dan kemandiriannya yang selama ini saya kagumi. Tapi saya juga tahu dia punya sesuatu yang tak mungkin dia tinggalkan. Seharusnya saya tahu bahwa ada sesuatu yang terus mengikuti dia. Tak mungkin saya bisa bersama dia. Itulah alasan saya berpaling padamu. Hampir setiap malam saya bersamamu, membisikkan kata-kata manis yang membuatmu melayang. Biarlah waktu yang menjawab.

Kisah si Padang Rumput

Akulah sang padang rumput yang terkenal dengan kelapanganku itu. di keheningan malam ini ku tatap langit, demi sebuah cita dan aroma semerbak harum asma. Matahari dan bulan telah melewatiku lebih dari  tiga ratus enam puluh lima kali puluhan lintasan, hampir semua terbit dalam ribuan kesemuan dan kepalsuan. 

Aku terdiri dari jutaan ribu helai rumput yang hijau menggemaskan, dan rumputku telah puluhan kali dihinggapi belalang. Suatu saat, salah satu helai rumputku berkata bahwa dia telah jatuh cinta kepada Seekor belalang. Tapi, Ketegasan dan keangkuhan jiwa ini terlalu kuat tuk relakan sedikit rumputku pada si kaki belalang berambut panjang itu. TIDAK!!! Kau terlalu bagus untuk familia berkulit keras itu, kau seharusnya dihinggapi oleh ordo berkulit halus lembut sehalus rambut gadis sunsilk.

Rumput berusaha melupakannya, sampai suatu ketika Rumput berkata, ada kupu-kupu cantik yang ingin memilikiku. Ini dia! sekilas kepakan sayapnya menggoda mata. Halus, lembut, tanpa ketombe. Akupun terdiam, dia memang sempurna, persis seperti yang kuinginkan!.

Tapi ternyata tak semudah yang kubayangkan, terutama untuk rumputku yang malang. Kupu-kupu itu terlalu sempurna untukku, aku bahkan tidak dapat menghasilkan madu yang diinginkannya, karena aku ini bukan bunga yang diimpikannya. Dia masih menginginkan bunga. TAPI, Aku ini hanyalah ilalang biasa, tempat belalang-belalang liar bermain, dan hanya berakhir untuk dijadikan makanan penggemuk sapi-sapi perahan. Begitu katanya.

Rumputku memang hijau dan segar. Semusim berlalu, dan rumputku telah memilih jalan hidupnya sendiri. DIa membiarkan dirinya sekarat, merangas, menguapkan tetes-tetes airmata kering tanpa sisa, dan berharap kupu-kupu pergi melewatinya.

Apa maumu, put? Tak inginkah kau dikelilingi oleh kepakan sayap sehalus sutera itu sepanjang hari? Dang Padang, ketahuilah! Aku sengaja membiarkan sekujur tubuhku tak terkena hujan, biarlah diriku kuning mengering. Dia ternyata masih hinggap pada bunga terakhirnya, bukan padaku. Dia tetaplah kupu-kupu yang membutuhkan bunga, bukan sekedar pecinta untuk menikmati warna hijauku.

Kini…… Aku terdiam lagi, menatap gelapnya langit malam, bersih, tanpa bintang. kulihat sekilas kemirlap cahaya di kegelapan malam tak jauh disana. Ku ambil kacamata baca tanpa suryakanta yang sering kugunakan. Tak salahkah mataku? Apa sebenarnya kilauan cahaya tadi itu? Ya, ada belalang yang lain sedang mendekati rumputku dengan tersenyum, kilauan cahaya itu ternyata berasal dari deretan begel kawat giginya, bukan dari perangkap tikus yang kubenci itu…..

- Cerita ini hanya ketikan iseng, nama dan perumpamaan tidak ada yang disengaja, dan tidak berhubungan dengan siapapun di dunia nyata. diketik pada h plus 5 lebaran 1929. aw

Im sorry, Good Bye

MAAF
YO, TAK MINGGAT YO (im sorry, goodbye)

 

"sak
wise aku ketemu kowe, hidupku bahagio…

sak wise
aku ketemu kowe, aku soyo tresno….

tapi soyo
suwi aku soyo ngerti kowe….

aku rodho
gelo, jebule kowe bajingan…"

 

"awal-awale
kerep, manis sing mbok kei….

ngawe aku
ngerasakke, tresno sing tenanan…

soyo
dino, soyo kebukak sing sak tenane….

aku soyo
gelo, ternyata kowe kerep ngapusi"

 

"Maaf
yo aku kudu lungo…

aku rak
seneng karo iki…

aku rak
bodo…

ora koyo cowok-cowokmu
liane…."

 

"Hatur
suwun o Gusti…

nduduhke
dalan iki…

ngapura
ku slalu…

lan hatur
suwun, dewe pegatan wae….

maaf yo,
tak minggat yo…"

 

"maaf
yo, tak minggat yo…"

"maaf
yo, tak minggat yo…"

"maaf
yo, tak minggat yo…"

 

 

MAAF NE, TA SOMO PIGI (im sorry,
goodbye)

 

“Setelah kita
bakudapa deng ngapa, kita pe hidup bahagia

Semenjak kita
bakudapa deng ngana, kita lebe tamba suka

Mar
ternyata lebe lama, kita so lebe tau tentang ngana

Kita nyanda
suka, ternyata ngana karlota…”

 

“Cuma di
awal-awal jo, tu manis yg ngana kase…

beking
kita daparasa, tu cinta butul-butul…

lebe
hari, lebe tabuka tu yang butul mana,

kita lebe
kecewa, ternyata ngana tukang badusta…”

 

“maaf ne,
kita somo pigi…

kita
nyanda suka dengan ini…

kita
nyanda bodok,

nyanda
rupa tu ngana pe paitua-paitua laeng…

 

“Trimakase
o Tuhan,

kase
tunjung ni jalan…

maaf ne,
ta kase putus pa ngana

maaf ne,
kita somo pigi….”

 

“maaf ne,
ta somo pigi….”

“maaf ne,
ta somo pigi….”

“maaf ne,
ta somo pigi….”

 

All text
by KD – Krisdayanto! (kata Windy)- Just for fun!

Older Posts »